Blogger news

Pages

Senin, 24 September 2012

4 Cerita Motivasi Kerja Yang Menakjubkan


Saudaraku semua berikut ini 4 cerita tentang motivasi dalam kerja yang dapat menjadi inspirasi yang menakjubkan bagi kita untuk meningkatkan prestasi dan karir kita semua yang membacanya, baik itu wirausaha, pengusaha maupun karyawan. Semuanya cukup singkat untuk dibaca, dan ada yang lucu serta ada dari kisah nyata dimana tokohnya adalah seorang pekerja keras.  Diambil dari berbagai motivator terkenal seperti Andrie Wongso ataupun mario teguh.


Seperti kita tahu kadang saat kita bekerja, itu menjadi sebuah rutinitas yang menyebalkan. Kadang ingin kita keluar dari hal itu dan membentuk sesuatu yang baru walau terkadang kita juga takut akan berubah. Semua cerita dibawah ini ada yang fiktif dan ada yang benar-benar kisah nyata. Namun semuanya mengajarkan kita bagaimana seharusnya manusia hidup, bagaimana dengan bekerja keras kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan sehingga kita bisa disebut menjadi orang sukses. Jalan untuk menuju ke sana memang tidak mudah bahkan terkadang terasa lebih sulit daripada kemampuan yang kita miliki. Tapi percayalah setiap kesulitan ada akhirnya, dengan keberanian dan kerja keras kita bisa mengubahnya, kita bisa mendapatkan apapun yang bahkan mungkin bagi orang lain adalah hal mustahil untuk dilakukan.

Lalu bagaimana kita bisa sukses, anda memerlukan sebuah inspirasi, tidak perlu pergi kemana-mana. Cukup di blogbintang.com, seperti yang telah dijanjikan diatas, berikut adalah kumpulan cerita motivasi yang pastinya sangat berguna bagi para pekerja keras seperti pengusaha atau karyawan….

1. Cerita Motivasi Kerja : Kisah Si Penebang Pohon
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !
Penulis : Andrie Wongso



2. Cerita Motivasi : Kerja Adalah Kehormatan
Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.
”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”
Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.
”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.
”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana.
Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”
Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.
Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.
Penulis : Andrie Wongso

3. Cerita Nyata : Buah Kerja Keras Tukang Cuci Piring di AS
Sekitar 6 tahun lalu, tepatnya tahun 2005, pria bernama Rudi Suparto ini terbang ke Amerika Serikat demi mencari uang lebih. Namun ternyata, mantan sales manager ini tak bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik selain tukang cuci piring di sebuah restoran.
Awal kehidupannya di Amerika Serikat terbilang tidak mudah bagi pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini. Betapa tidak, ia sebenarnya tidak bisa berbahasa Inggris. Alhasil, hanya tukang cuci piringlah yang bisa dijadikan nafkah penghidupannya di tahun-tahun pertama di negeri Paman Sam ini. “Sedih sekali sebenarnya waktu itu. Saya tidak biasanya memegang sampah dan kotoran makanan,” kisah Rudi.
Luar biasanya, kondisi menyedihkan ini tidak membuat Rudi pantang menyerah. Justru ia menjadikan keadaannya itu sebagai bahan pelajaran sehingga pada akhirnya ia mengetahui cara memasak dan seluk beluk restoran.
Ketekunan dan kegigihannya selama beberapa tahun tersebut akhirnya menghasilkan sebuah restoran cepat saji miliknya sendiri, yang diberi nama Wok Express. Restoran ini terletak di jalan utama kompleks kasino, Las Vegas, Amerika Serikat.
Ibarat kacang yang tak lupa akan kulitnya, Rudi pun ikut membantu sesama imigran asal Indonesia. Seluruh karyawannya adalah orang Indonesia, dan hanya juru masaknya saja yang warga China.
Meski sudah memiliki kehidupan mapan di Amerika, Rudi tetap berencana untuk menghabiskan masa tuanya di Indonesia. Karena itu, ia selalu berusaha berbahasa Indonesia dengan anak-anaknya supaya bahasa ibu mereka tidak hilang.
Pencapaian Rudi Suparto ini membuktikan bahwa setiap peluh kerja keras di bidang apa pun bila ditekuni dengan niat baik dapat berbuahkan kesuksesan yang manis. Selain itu, apa yang dilakukan Rudi juga patut dicontoh. Sejauh apa pun kita melalang buana dan apalagi menuai keberhasilan di negeri orang, layaknya kita tidak melupakan kampung halaman. Luar Biasa!

4. Cerita Motivasi Nyata: Kerja Keras Tak Pernah Sia-Sia

Coba Gooding Jr. dikenal sebagai aktor yang memiliki karakter kuat. Sejumlah filmnya laris di pasaran dan mendapat berbagai penghargaan. Selain Jerry Maguire di mana ia bermain dengan Tom Cruise, Gooding juga main bagus dalam film A View Good Men (film peraih 4 Oscar) bersama Cruise, Demi Moore, dan Jack Nicholson, di As Good as It Gets (2 Oscar) bersama Jack Nicholson, Men of Honor bersama Robert de Niro di mana ia dinominasikan meraih Oscar keduanya, dan sejumlah film lain.
Gooding lahir di New York pada 2 Januari 1968. Keluarganya pindah ke Los Angeles saat Gooding berusia empat tahun. Di kota ini grup band ayahnya meraih kesuksesan dengan single lagunya yang populer, Everybody Plays the Fool. Tetapi sukses itu berujung buruk karena sang ayah meninggalkan mereka.
Dengan orangtua tinggal separuh, sekolah Gooding jadi berantakan. Ia berkali-kali pindah sekolah. Meski begitu, saat duduk di bangku SMA ia mulai mengembangkan bakat seninya dengan ikut kegiatan drama sekolah.
Selain drama ia juga ikut kegiatan ekstra kulikuler cross country dan juga break dance. Kemampuannya bermain break dance tertangkap pemandu bakat Hollywood yang kemudian mengajaknya main sebagai pembuka pertunjukan penyanyi Lionel Richie dan Paula Abdul pada tahun 1984. Berkat break dance juga ia tampil sebagai penari pada pembukaan Olimpiade Los Angeles 1984.
Meski seni peran ia tekuni dengan baik, selepas SMA ia malah berlatih beladiri Jepang. Saat itu prospeknya di dunia akting belum ia dapatkan. Namun usaha kerasnya akhirnya membawa hasil. Pada tahun 1986 ia mendapat peran pertama di serial televisi Hill Street Blues meski hanya dua episode. Setelah itu ia berperan kecil dalam beberapa serial televisi lain, termasuk salah satunya serial McGyver yang terkenal itu.
Ia mulai main di layar lebar tahun 1988 melalui film Coming to America. Ia berperan menjadi figuran seorang anak yang tengah dicukur. Lama kelamaan perannya makin besar sampai main cukup panjang di film Boyz n the Hood (1991). Film ini masuk nominasi peraih Oscar untuk sutradara terbaik dan skenario terbaik dan Gooding ikut menjadi sorotan karena berperan baik sebagai Tré Styles. Dari sinilah kebintangannya mulai kelihatan. Sejak itu ia mendapat berbagai tawaran untuk main dengan sejumlah bintang film besar.
Sukses memang sudah ia raih saat ini. Namun waktu krusialnya, menurut Gooding, saat di SMA. Ia begitu serius belajar drama tak peduli apa halangannya. “Waktu terberat adalah saat SMA, (saat itu) saya tak punya pekerjaan dan selalu kesulitan. Saya pergi untuk audisi baik naik bis atau jalan kaki (karena tak punya uang),” katanya. Terbukti kerja keras tak pernah sia-sia.

Itulah saudara berbagai cerita motivasi yang sangat luar biasa, yang dapat menjadi inspirasi kita untuk menjadi lebih baik dari kemarin dalam sebuah hal bernama kerja. Percayalah dengan keteguhan, konsistensi dan kerja keras kita bisa meraik sukses seperti cerita-cerita diatas, Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, karena Tuhan tidak pernah memberikan kesulitan diatas kemampuan manusia. Ini adalah bukti bahwa Tuhan tidak pernah menghalang-halangi kesuksesan yang telah bisa anda raih. Selamat bekerja dan Sukses selalu.

Makna Lagu Garuda Di Dadaku


Saya yakin pasti kalian semua sudah tau lagu Garuda Di Dadaku yang dibawakan oleh Netral, yang sekarang lagu itu sudah menjadi lagu wajib apabila timnas kebanggaan tim Indonesia bertanding .
 Kalau mendengar lagu ini mungkin kita pasti teringat piala AFF di tahun 2010 kemaren dimana timnas Indonesia berhasil membakar semangat nasionalisme bangsa Indonesia dengan semangat tempur nya yang begitu dahsyat.. tapi coba pikirkan sejenak dibalik itu semua terdengar sebuah kata-kata yang terucap bagaikan sebuah penyemangat yang sangat dahsyat..

Garuda Di Dadaku..
                                                          Garuda Kebangganku...
                                                                Ku Yakin Hari Ini Pasti Menang

                                                        Kobarkan Semangatmu
                                                            Tunjukan Keinginanmu
                                                               Ku Yakin Hari Ini Pasti Menang
Penggalan lirik ini bagaikan sebuah mantra yang mampu menyihir bangsa Indonesia untuk tidak membeda-bedakan suku, adat, ras , dsb.. tapi justru di lirik ini membuktikan persatuan  kuat dan semangat yang membara untuk selalu mendukung perjuangan timnas kita apabila bertanding. Ketika peluit panjang tanda pertandingan dimulai rasa nasionalisme yang membara mencapai pada puncaknya .. Dan disitulah nyanyian Garuda Di Dadaku dilantunkan bagaikan sebuah penyemangat untuk timnas Indonesia..

Tidak peduli apakah dia pejabat, artis, ataupun tokoh masyarakat sekalipun.. Tujuan kami datang adalah untuk  menggemakan  Garuda Di Dadaku..

Tidak peduli darimana asalmu Jawa,Sumatra,Kalimantan, Bali, dsb .. Tujuan kami datang adalah untuk selalu menemani mu kapanpun kau bertanding..

Tidak peduli dengan semua perbedaan yang terjadi karena kami semua hanya satu INDONESIA...

Dan dari lagu ini tersirat banyak sekali harapan dari jutaan warga Indonesia, agar timnas Indonesia mampu menunjukan semangat nasionalisme yang membara untuk membuktikan pada dunia siapa kita sebenarnya...

Indonesia adalah bangsa yang besar.. dan bangsa yang besar harus mempunyai harapan yang besar pula,,  dan harapan itu harus kita bersama realisasikan dengan dukungan dan semangat penuh untukmu Timnas Garuda..
Jayalah Negaraku
Tanah Air Tercinta 
Indonesia Raya

Jayalah Negaraku
Tanah Air Tercinta
Indonesia Raya
Terima Kasih Untuk pembaca, semoga postingan saya yang kali ini bermanfaat

5 Motivasi Kerja yang Membuat Orang Jepang Sukses


Kita tahu jepang menjadi salah negara sukses di asia dan dunia. Pada artikel kali ini bayu akan membahas motivasi kerja apa saja sih yang membuat kebanyakan orang disana sukses.Mungkin banyak faktor yang membuat semua itu terjadi.

Tapi bayu sendiri yakin motivasi dibawah inilah, yang membuat kebanyakan masyarakat jepang hidup makmur seperti sekarang ini :

1. Kerja Keras
Tentu ini motivasi yang patus kita contoh! Sama seperti kebanyakan orang-orang di Asia Timur. Mereka menjadi pekerja keras dalam hidupnya.


Kata mutiara motivasi : Di dunia ini tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada adalah kita kurang bekerja keras.

2. Pantang Menyerah
Masyarakat jepang untuk ini benar-benar membuktikannya. Dulu mereka setelah porak-poranda akbiat perang dunia ke II. Hanya membutuhkan waktu tidak lama untuk menjadi salah satu pusat ekonomi dunia.

Pesan Motivasi : Menyerahlah jika peluang benar-benar sudah habis. Tapi selagi masih ada satu harapan, Raihlah dengan kerja keras dan anda pasti SUKSES.

3. Menjaga Kehormatan
Jika kamu sering melihat film atau mungkin mengikuti artikel berita di TV, sesekali pasti mendengar istilah Harakiri yaitu bunuh diri dengan menusukkan pedang ke perut. Itu dilakukan oleh masyarakat disana karena mereka tahu malu.

Masih ingat Menteri Kesehatan Jepang yang mengundurkan diri karena melakukan kesalahan. Atau pejabat yang akhirnya bunuh diri karena telah melakukan korupsi. Atau  pelajar yang bunuh diri karena nilainya jelek. Dan menjadikan orang jepang menjadi nomer satu dalam kasus bunuh diri.

Tapi ingat BAIK-BAIK artikel ini tidak memerintahkan anda bunuh diri jika membuat orang lain susah. Pesan Motivasi yang bisa kita raih adalah “Tahu Malulah”, dan kemudian intropeksi diri berbuat lebih baik lagi

4. Rajin Membaca
Membaca seperti menjadi sebuah budaya di Jepang. Bukanlah hal yang aneh melihat orang bejalan sambil membaca.Atau saat anda masuk ke kereta listrik, disana bisa dilihat banyak orang yang membaca.

Banyak-banyaklah membaca artikel, apalagi sekarang sudah zaman internet anda bisa mendapatkan artikel tentang berbagai hal mulai dari komputer, motivasi, sejarah, ekonomi dsb. Karena dengan lebih banyak mengetahui informasi dibanding lawan, anda sudah lebih dekat ke tujuan.

5. Menjaga Tradisi
Motivasi yang ini patut kita contoh. Mengapa? bayangkan saja dengan kemajuan tekhnologi dan ekonomi. Mereka tetap tidak meninggalkan tradisi. Bahkan bayu pernah menonton berita yang memperlihatkan “Laptop dikasih jampi-jampi supaya tidak terkena masalah”.

Entah sekarang anda saat ini kerja atau sedang belajar. Gunakanlah artikel sukses dari orang jepang diatas untuk dijadikan motivasi. Kobarkan SEMANGAT anda, karena sukses adalah HAK setiap orang bagi yang mau menerimanya.

MEMBUKA PINTU REZEKI


Sebelum lahir, Allah SWT telah menetapkan 3 (tiga) perkara kepada manusia tentang Umur, Jodoh dan Rezeki, semua telah dituliskan.


Pengertian “telah dituliskan” menurut saya – orang yang awam dan bodoh ini- adalah masih bersifat abstrak dan banyak penafsiran. Mengapa ? Sebab walaupun telah ditentukan namun Allah Swt juga telah memerintahkan hambanya untuk berikhtiar.

Berikut adalah amalan sepanjang masa untuk mendatangkan rezeki:

1. Shalat Dhuha

Shalat Dhuha ini dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit (kira kira jam 8 pagi) sampai jam 11 siang. Jumlah rakaatnya adalah 2, 4, 6 dan 8 rakaat (kelipatan 2 rakaat).

Berikut adalah Doa setelah shalat Dhuha :


ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

2. Bersedekah


Bersedekah dengan ikhlas dan (kalau bisa) jumlahnya besar. Artinya, jika mampu bersedekah Rp 100.000, mengapa hanya bersedekah Rp 1000 ?. Kalau perlu sekali kali kasih aja tukang parkir atau pengemis dengan uang “kagetan” Rp 100.000. Pasti aja tukang parkir atau pengemis tadi akan kaget. Dan Insya allah kita juga akan “dikagetkan” oleh Allah swt dengan Rezeki yang besar !!!. Tapi sekali lagi ingat, bersedekah harus ikhlas…

Kedua amalan di atas jika dilakukan dengan rutin dan Istiqomah insya allah hasilnya akan luar biasa. Sekedar info saja, banyak pengusaha dan orang “berada” lainnya yang menjadikan kedua amalan di atas sebagai amalan rutin.

Namun yang terberat menurut saya bukan amalannya, namun justru menjaga rutinitasnya itulah yang membutuhkan kemauan yang sangat kuat.

Banyak sekali orang yang pada awalnya menggebu gebu, namun begitu rezeki sudah mulai meningkat dan kesibukan semakin banyak maka amalannya pun tidak dijalankan lagi.

Selain 2 amalan di atas, masih banyak lagi amalan lainnya yang – insya allah – akan mendatangkan rezeki.  Tulisan dibawah ini saya ambil dari adekurniawati.wordpress.com, inilah amalannya :

1.  Memperbanyak istighfar kepada Allah

“Barang siapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesusahan dan kesempitan, dan Allah juga akan mendatangkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (rowahu Ahmad)

2.  Memperbanyak infak fi sabilillah

“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ : 39)

3.  Memperbanyak silaturohim

“Barang siapa yang ingin dibentangkan/dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka supaya bersilaturohim.” (rowahu Bukhori)

4.  Senang menghormati tamu

“Tamu datang dengan membawa rezeki dan pulang dengan membersihkan dosa kalian.” (rowahu Syih)

5.  Berusaha menjadi orang yang jujur/amanah

“Amanat mendatangkan rezeki dan khianat mendatangkan kefakiran.” (rowahu dailami)

6.  Meningkatkan taqwa kepada Allah

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At Tholaaq : 2-3)

7.  Memperbanyak tawakkal kepada Allah

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Tholaaq : 3)

8.  Supaya selalu Husnudzzhan billah

“Sesungguhnya Allah di sisi persangkaan hamba-Nya dan Allah bersama hambaNya ketika ia berdoa.” (rowahu Muslim)

9.  Menertibkan sholat tahajud dan do’a 1/3 malam


“Allah turun ke dunia/bumi ketika 1/3 malam yang akhir. Dan Allah berfirman : Barang siapa yang berdo’a kepadaKu maka akan Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu maka akan Aku berikan, dan barang siapa yang meminta ampun kepadaKu maka akan Aku ampuni.” (rowahu Bukhori).

Demikian dan semoga Artikel tentang amalan untuk mendatangkan rezeki ini bermanfaat untuk anda…

Senin, 06 Agustus 2012

PERAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA SD



Assalamu 'alaikum wr. wb......
Jumpa lagi sobat blogger, setelah kemarin-kemarin kita belajar tentang Penelitian Tindakan Kelas, sekarang kita akan belajar tentang peran kecerdasan Emosional pada siswa SD (Sekolah Dasar). Sejak berpuluh-puluh tahun kita percaya bahwa kecerdasan intelektual atau kecerdasan kognitif merupakan segala-galanya dalam kehidupan seseorang, khususnya untuk menentukan kesuksesan hidup seseorang dalam segala bidang. Namun, beberapa tahun belakangan ini pendapat tersebut menjadi tanda tanya besar, lebih-lebih setelah munculnya pendapat bahwa kecerdasan kognitif atau kecerdasan intelektual  saja tidak cukup memberikan sumbangan terhadap keberhasilan baik dalam pendidikan atau pengembangan kualitas kehidupan.

Dahulu banyak para ahli percaya bahwa IQ (Intellegence Quotient) atau kemampuan intelegensi adalah segala-galanya dan menggolongkan emosi sebagai bagian dari intelegensi, dan bukan melihat emosi dan intelegensi sebagai dua hal yang berbeda.
IQ
KLASIFIKASI
130 – ke atas
Sangat Superior / Genius
120 – 129
Superior
110 – 119
Di atas rata-rata
90 – 109
Rata-rata / Normal
80 – 89
Di bawah rata-rata
70 – 79
Perbatasan
50 - 69
Moron / dungu
25 - 49
Imbecile
0 - 24
Idiot
Tabel Klasifikasi Intelegensi

Sebagai mana kita ketahui bahwa  inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. IQ atau singkatan dariIntelligence Quotient, adalah ukuran kecerdasan yang nilainya didapat dari hasil bagi (kuasi) antara kecerdasan kronologis dan kecerdasan mental. Jadi, IQ adalah ukuran untuk menyebutkan nilai kecerdasan, bukan kecerdasan itu sendiri, sedangkan kecerdasan itu tidak hanya dapat dinilai dalam ukuran IQ, bisa bermacam-macam ukuran, tergantung alat tes dan teori yang digunakan..

Sedangkan pengertian kecerdasan emosional (emotional Intellegence) yang pada awalnya dikemukakan oleh Peter Salovey dan John Meyer yang kemudian dipopulerkan oleh David Goleman (1995) terus dirangkum oleh Hedlund danSternberg (2000) bahwa Kecerdasan Emosional adalah kemampuan seseorang untuk memotivasi diri sendiri dan tekun dalam menghadapi frustasi, mengontrol dorongan-dorongan impulsif (dorongan yang timbul berdasarkan suasana hati) dan mampu menunda pemuasannya, mengatur suasana hati sehingga tidak mempengaruhi kemampuan berpikir, berempati.
Definisi ini kemudian disempurnakan oleh Goleman (1998) dalam bukunya Working with Emotional Intellegence sebagai kapasitas untuk mengenal perasaan kita sendiri dan orang lain, untuk memotivasi diri kita, dan untuk mengatur emosi dalam diri kita dan dalam hubungan kita dengan orang lain.




Tanpa kecerdasan emosional yang sehat, seseorang akan mudah dikuasai oleh nafsu yang mengalahkan daya nalar sehingga menjadi emosional dan sering terjadi salah langkah dan akhirnya menyesali perbuatannya. David Goleman (1995) mengemukakan 5 (lima) norma dari kecerdasan emosional yang kemudian diringkas oleh Salovey berdasarkan pandangan intelegensi pribadi dari Gardner, kelima norma kecerdasan emosional tersebut adalah :
  1. Pengenalan emosi diri, menunjukan kesadaran diri atau pengenalan terhadap perasaan yang dialami sehingga mampu mengendalikan kehidupannya.
  2. Pengendalian emosi, menunjukan bagaimana kemampuan untuk mengendalikan emosi yang terlalu dalam yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan seseorang agar dapat mencapai keseimbangan.
  3. Memotivasi diri sendiri, yaitu mengatur emosi agar seseorang dapat memusatkan perhatian dan motivasi diri menjadi kreatif dan berusaha untuk mencapai cita-cita atau tujuan hidup.
  4. Mengenali emosi orang lain, yaitu mampu membaca tanda-tanda nonverbal dan mengerti perasaan dan emosi orang lain sehingga mampu menyesuaikan diri dengan sikap dan tindakan yang ditampilkan oleh orang lain.
  5. Mengendalikan hubungan dengan orang lain, yaitu kemampuan untuk menjaga hubungan dengan sesama serta mengenali emosi setiap orang.
Keberhasilan hidup manusia tidak hanya ditentukan oleh bagaimana tingkat kecerdasan intelektualnya. Sepandai-pandainya manusia, jika tidak ditunjang dengan sikap, moral dan kepribadian yang memadai juga tidak akan mencerminkan individu yang sehat dan matang. Mengingat banyaknya tantangan yang akan dihadapi siswa dalam kehidupannya kelak,maka peran orang tua maupun guru perlu memberikan bimbingan dan pengarahan untuk mencerdaskan kemampuan dan emosinya.

Di sekolah kadang kala dijumpai siswa yang berkemampuan kurang atau siswa yang berkemampuan baik. Mereka memiliki kecerdasan jauh di bawah atau di atas rata-rata. Tampaknya hal tersebut perlu dikenal oleh seorang guru, guru harus mampu memberikan rangsangan yang sesuai dengan yang dibutuhkan anak.
(Dari berbagai sumber di google)
Wassalamu 'alaikum wr. wb.

TUJUAN DAN JENIS PENGAJARAN MEMBACA DAN MENULIS






Assalamu 'alaikum wr. wb 

A. TUJUAN PENGAJARAN MEMBACA DAN MENULIS

Tujuan pengajaran membaca dan menulis pada dasarnya ialah memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan kepada siswa untuk menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik dan dapat menuliskannya dengan baik dan benar. Secara rinci tujuan pengajaran membaca dan menulis di Sekolah Dasar ialah :
  1. Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami dan melaksanakan cara membaca dan menulis dengan baik dan benar.
  2. Melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal dan menulis huruf-huruf (abjad) sebagai tanda bunyi atau suara.
  3. Melatih mengembangkan kemampuan siswa agar terampil mengubah tulisan menjadi suara dan terampil menulis bunyi/suara yang didengarnya.
  4. Mengenalkan dan melatih siswa untuk mampu membaca dan menulis sesuai dengan teknik-teknik tertentu.
  5. Melatih ketrampilan siswa untuk memahami kata-kata yang dibaca atau ditulis dan mengingat artinya dengan baik.
  6. Melatih ketrampilan siswa untuk dapat menetapkan arti tertentu dari sebuah kata dalam konteks kalimat.
  7. Memupuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami, menuliskan, menggunakan dan menikmati keindahan cerita bahasa Indonesia.
  8. Mengungkapkan ide/pesan sederhana secara lisan atau tertulis.


 
B. JENIS PENGAJARAN MEMBACA DAN MENULIS

Secara garis besar jenis pengajaran membaca dan menulis ada 2 (dua), yaitu pengajaran membaca dan menulis permulaan dan pengajaran membaca dan menulis lanjutan (pemahaman).

Pengajaran membaca dan menulis permulaan diberikan di Kelas I bertujuan agar siswa terampil membaca dan menulis. Sedangkan untuk di Kelas II di samping agar siswa terampil membaca dan menulis, juga mengembangkan pengetahuan bahasa dan ketrampilan berbahasa yang diperlukan siswa untuk menghadapi pelajaran di Kelas III, IV, V dan VI. Untuk memahami istilah dan ungkapan baru tersebut diperlukan pengetahuan bahasa dan ketrampilan berbahasa yang memadai.

Pengajaran membaca permulaan di kelas I dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu membaca buku permulaan tanpa buku dan membaca permulaan dengan buku. Membaca buku permulaan tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa yang baru masuk sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah yang memberatkan dirinya, maka dari itu siswa hanya dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan :
  • menyimak cerita guru
  • tanya jawab dengan guru
  • memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru
  • membicarakan bunyi
  • menemukan tanda bunyi
  • membaca kalimat
  • melihat dengan kalimat
  • menemukan bagian-bagian kalimat
  • dan sebagainya....
Waktu yang diperlukan untuk pengajaran membaca dan menulis permulaan tanpa buku Maksimal 8-10 minggu. Dalam situasi yang memungkinkan waktu tersebut dapat dipersingkat. Sisa waktu dari semester 1 (semester ganjil) digunakan untuk berlatih membaca buku.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN


Assalamu 'alaikum wr. wb.
Dalam melaksanakan pengajaran membaca dan menulis permulaan, ada beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang Guru, antara lain :
1. Tingkat Perkembangan Anak
Perkembangan antara anak yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda, baik secara fisik maupun psikis. Ada yang perkembangannya cepat, sedang dan ada yang lambat. Anak Usia Sekolah Dasar pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk meniru serta besar sekali keingintahuan terhadap sesuatu.Selain itu pada anak usia tersebut terdapat potensi yang besar untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan. Oleh karena itu guru sebagai pendidik hendaknya dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk membangkitkan minat, bakat dan kemampuan anak dengan memberikan dorongan serta bimbingan yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangannya.

2. Tingkat Kesiapan Anak
Tingkat kesiapan anak dalam menerima pelajaran berbeda-beda. Anak Kelas 1 (satu) yang berasal dari TK (Taman Kanak-kanak) atau dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tentu lebih siap menerima pelajaran daripada anak yang sama sekali belum bersekolah. Untuk itulah guru hendaknya memberikan perhatian khusus kepada anak yang belum siap agar segera dapat menyesuaikan diri. Sedangkan anak yang sudah siap hendaknya diberi kegiatan tambahan.

Setiap mengajar hendaknya guru berpedoman pada Kurikulum program pembelajaran. Demikian dalam mengajar membaca dan menulis, guru juga harus berpedoman pada Kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya tentang pengajaran membaca dan menulis.

Dalam mengajar Bahasa Indonesia tentang membaca dan menulis, guru berorientasi pada Tujuan Pembelajaran. Tujuan yang tertulis dalam Kurikulum masih bersifat umum, oleh karena itu perlu dijabarkan lebih lanjut dalam tujuan-tujuan khusus dalam Kompetensi Dasar dan Indikator pembelajaran sehingga memudahkan pencapaian serta dapat diukur oleh guru itu sendiri dan dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

5. Sumber Bahan Pembelajaran
Bahan pengajaran diambil dari buku-buku terbitan Depdiknas dan buku-buku lain terbitan dari swasta yang telah mendapat ijin dari Kemdiknas tentunya. Guru juga dapat mengembangkan sendiri dengan syarat serta memenuhi kriteria  :
  • Bahan harus memupuk jiwa dan moral Pancasila.
  • Sesuai dengan taraf perkembangan anak.
  • Bermanfaat bagi siswa.
  • Sesuai dengan perkembangan Ilmu yang terbaru.
  • Dapat dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain.
  • Memenuhi Tujuan Pendidikan Nasional.
  • Menanamkan rasa kebangsaan.
  • Mendukung Tujuan Pembangunan Nasional.
6. Alat Peraga / Perlengkapan
Alat peraga / perlatan yang menunjang keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Misalnya : kartu gambar, kartu nama, kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat, kartu suku kata,gambar, dan lain-lain.

7. Keaktifan Siswa.
Guru adalah pencipta kegiatan belajar siswa, aktifitas siswa diharapkan lebih banyak dari pada guru. Seperti pepatah " saya mendengar saya lupa, saya melihat saya ingat, dan saya mengerjakan saya mengerti.

8. Sikap membaca dan menulis yang benar.
Antara lain :
  • Sikap duduk yang benar.
  • Penerangan/cahaya yang baik.
  • Letak buku yang baik.
  • Cara memegang pensil ketika menulis
9. Metode pengajaran membaca dan menulis permulaan.
Antara lain :
  • Metode abjad.
  • Metode bunyi.
  • Metode suku kata.
  • Metode kata lembaga.
  • Metode global.
  • Metode SAS (Struktural Analitik dan Sintesis)
Demikian, semoga bermanfaat.
Wassalamu 'alaikum wr. wb.

BAKAT DAN KREATIFITAS ANAK SD




Sebagaimana halnya Minat, setiap anak mempunyai bakat yang berbeda-beda. Ada yang berbakat music, melukis, menari, olahraga, mengoperasikan komputer dan lain-lain. Sementara perbedaan bakat juga terletak pada tingkat pemilikan bakatnya. Misalnya, 2 anak yang sama-sama bakat melukis, pasti anak yang satunya lebih menonjol dan lebih menguasai dari anak yang lainnya. Demikian pula dengankreatifitas anak berbeda-beda. Ada yang kreatif dengan ide-ide verbal, tetapi ada pula anak yang kraetif dengan ide-ide grafis.

A. Bakat.

Dalam Kapita Selekta Pendidikan SD bahwa bakat adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu tugas tanpa banyak ketergantungan kepada latihan. Utami Munandar (1987) mengemukakan bahwa bakat merupakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.Sarwono (1986) mengemukakan bahwa bakat adalah Kondisi di dalam diri seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, pengetahuan dan ketrampilan khusus. Dengan demikian, bakat merupakan potensi yang ada dalam diri seseorang yang perlu dilatih dan dikembangkan karena tanpa latihan dan pengembangan maka bakat yang ada dalam diri seseorang tidak akan terwujud.

Utami Munandar (1987) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menentukan sejauh mana bakat anak dapat terwujud. Faktor-faktor tersebut antara lain :

1. Faktor dalam diri anak.

Anak yang mempunyai keinginan besar untuk mewujudkan bakatnya dalam suatu prestasi, ia pasti ingin menjadi juara. Seberapa besar keuletan anak menghadapi tantangan, dan bagaimana motivasinya, yang penting ia dapat memenangkannya.

2. Faktor keadaan lingkungan.

Sarana dan prasarana yang tersedia, dukungan besar dan dorongan dari orang tua, serta bagaimana kehidupan sosial ekonomi orang tua maupun tempat tinggal anak, dapat mempengaruhi anak dalam mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.


B. Kreatifitas.
Kreatifitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi dan unsur-unsur yang ada ( Utami Munandar : 1987 ). Umumnya kebanyakan orang mengartikan kreatifitas sebagai daya cipta, khususnya mengenai hal-hal baru. Utami Munandar (1987) menyebutkan bahwa secara operasional kreatifitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (memperkaya, mengembangkan, dan merinci) suatu gagasan untuk menunjukan sejauh mana ide yang dihasilkan benar-benar original.

Kreatifitas menurut konsep atau pendekatan 4 P, merupakan suatu pendekatan yang melihat kreatifitas dari segi Pribadi (dimiliki setiap orang walau berbeda-beda kadarnya), Pendorong (press) dimana lingkungan memiliki andil memberikan rangsangan agar kreatifitas dapat terwujud, Proses (sesuatu yang diperlukan untuk melihat bagaimana suatu kreatifitas dapat tercapai) dan Produk kreatifitas (hasil kreatifitas yang diharapkan dapat dinikmati oleh lingkungannya dan bermakna bai yang bersangkutan.

Kemampuan kreatifitas seseorang sangat tergantung dari faktor dalam dan luar diri. Oleh karena itu, sebagaimana layaknya bakat dan minat, kemampuan kreatifitas seseorang perlu dikembangkan. Sumber-sumber kreatifitas seperti kognitif,kepribadianmotivasional dan lingkungan perlu dikembangkan semaksimal mungkin oleh pihak orang tua (keluarga), dan guru. Dengan mengetahui sumber-sumber ini, kita dapat menciptakan suatu lingkungan proses belajar mengajar yang merangsang kemampuan berpikir kreatif anak. Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah kita tidak bisa menitikberatkan kreatifitas seseorang itu hanya melalui produknya saja, justru yang terpenting dalam kreatifitas adalah prosesnya, karena disitulah kita dapat melihat bagaimana muncul keunikan ide seseorang.

Ketika Musim Tahun Ajaran Baru Tiba

 Euforia back to school biasanya selalu terlihat pada anak-anak di awal tahun ajaran baru. Seragam, kelas dan teman-teman baru. Tapi bagi sebagian besar siswa, tahun ajaran baru adalah momok. Sebab para siswa dihantui oleh pungutan sana-sini dan biaya ini-itu yang biasanya juga meramaikan tahun ajaran baru.
Fenomena yang semakin biasa terlihat menjelang tahun ajaran baru adalah ramainya lembaga Pegadaian. Pernyataan ini diamini oleh Kepala Humas PT Pegadaian (Persero) Kanwil Medan - Lintong Parulian Panjaitan. Jelang tahun ajaran baru banyak orang tua di Medan menggadaikan barang berharga untuk biaya sekolah putra-putri mereka. Hal ini terlihat hampir di seluruh kantor Pegadaian di Kota Medan. 

"Sebagai upaya agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan biaya pendidikan, PT Pegadaian Kanwil Medan telah menyiapkan dana sebesar Rp700 miliar untuk wilayah Sumut dan Aceh. Dana sebesar itu kita persiapkan untuk menyahuti permintaan uang pinjaman sistem gadai menjelang tahun ajaran baru," katanya (29/5). Menurutnya, peningkatan jumlah nasabah telah terasa sejak awal Mei dengan peningkatan pengajuan pinjaman yang mencapai 300 transaksi per hari atau meningkat sebesar 50 persen dibandingkan hari biasa. Dari sekian banyak transaksi, 90 persen menggadaikan emas sebagai jaminan, sisanya berupa barang elektronik dan kendaraan bermotor. Dia memperkirakan peningkatan itu akan terus terjadi hingga akhir Juni nanti.

Dari SD hingga PT

Pemerintah mengklaim telah membuat sekolah gratis. Nyatanya, program itu tidak didukung anggaran yang memadai. Selama ini, pemerintah mengandalkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) padahal dana tersebut hanya mampu menutupi 30 persen biaya pendidikan. Tak heran jika pihak sekolah pontang-panting mencari akal untuk menutupi kekurangan biaya. Banyak kepala sekolah yang mengeluh karena dana BOS tak mencukupi. 

Koordinator Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan menjelaskan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Depdiknas, untuk menuju sekolah gratis dibutuhkan dana sebesar Rp 1,8 juta per siswa SD per tahun dan Rp 2,7 juta per siswa SMP per tahun. Sementara dana BOS yang disediakan pemerintah di kota masih berkisar Rp 400.000 per siswa SD per tahun dan Rp 397.000 per siswa SD di kabupaten. Untuk siswa SMP di kota diberikan dana Rp 575.000 per tahun dan Rp 570.000 per siswa SMP per tahun di kabupaten. Dengan demikian orang tua murid SD masih harus menanggung biaya sebesar Rp 1,4 juta dan Rp 2 juta untuk orang tua murid SMP. 

Di beberapa daerah telah menjadi wacana sekolah akan memfasilitasi para orang tua murid yang ingin berpartisipasi dalam menutupi defisit biaya operasional ini. Para orang tua diberikan kesempatan menyumbang sejumlah dana kepada pihak sekolah dengan nominal yang tidak terbatas. Rencana ini terlihat solutif, tapi dapat memunculkan kohesi internal. Murid yang orangtuanya menyumbangkan dana besar, tentu mendapat perhatian istimewa dari pihak sekolah. Hal ini akan membuat timpang suasana belajar-mengajar. 

Belum ditambah dengan tersendat-sendatnya pencairan dana BOS yang membuat pihak sekolah menjadi serba salah untuk menangani operasionalnya. Meminta pungutan dari orang tua murid khawatir dituding melanggar brand gratis seperti yang digembor-gemborkan pemerintah. Namun bila tidak begitu, fasilitas pelayanan anak didik menjadi terabaikan. Oleh karena itu, Komite Sekolah biasanya dijadikan bemper untuk menyelesaikan masalah sensitif ini. Pungutan seperti seragam, buku, alat sekolah, biaya praktikum, LKS, uang komputer, bayar ulangan, biaya les tambahan, dan sebagainya tetap terjadi meksipun siswa dibebaskan SPP.

Sementara itu, anggaran pelaksanaan wajib belajar sebesar Rp 31 triliyun justru merambat ke hampir seluruh direktorat pendidikan seperti Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik Tenaga Kependidikan (PMPTK) dan Sekretariat Jenderal. Berdasarkan data yang dihimpun ICW sepanjang tahun 2008 terdapat 36 kasus korupsi di tubuh Depdiknas. Alhasil, negara rugi 134,2 milyar. Pelaku korupsi didominasi oleh dinas pendidikan dengan modus mark up dan penyalahgunaan keuangan. Kondisi ini sangat memilukan mengingat dana yang minim masih harus disunat disana-sini.

Maka program sekolah gratis itu tidak efektif mengentaskan anak-anak dari jalanan. Justru jumlah anak yang putus sekolah semakin meningkat. Data Kompas 2011 menyebutkan tak kurang dari setengah juta anak SD putus sekolah sehingga angka melek huruf anak Indonesia berada pada titik yang mengkhawatirkan, 2 juta siswa setingkat SMP terancam putus sekolah dan 77% tidak mampu melanjutkan ke tingkat SMA. Mereka banyak di lingkungan sekitar kita, mungkin tetangga atau bahkan saudara kita sendiri.

Tidak berbeda dengan nasib para calon mahasiswa yang ingin mendaftar di sebuah perguruan tinggi. Praktek "jual beli" kursi sangat terasa di beberapa kampus besar. Di kampus seperti UI, ITB dan UGM, biaya setoran awal untuk mendapatkan sebuah bangku bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tahap seleksi mahasiswa juga menjadikan besaran sumbangan orang tua sebagai tolak ukur. Semakin besar dana pembangunan yang mampu disetorkan orang tua, semakin besar pula kemungkinan mahasiswa untuk mendapat jatah bangku. Sementara seleksi melalui SNMPTN dimana para mahasiswa murni bersaing secara intelegensia, hanya memiliki proporsi kecil dalam kuota penerimaan mahasiswa baru.

Buah Liberalisasi Pendidikan

Biaya pendidikan yang melangit tidak lepas dari paradigma yang digunakan sebagai landasan pijaknya.

Sistem pendidikan dibangun di atas paradigma kapitalistik-sekuler sehingga menganggap pendidikan bukanlah hak mendasar dari setiap warganya tetapi sebagai mesin pencetak uang. 

Liberalisme pendidikan telah menyebabkan disorientasi pendidikan, dari upaya mencerdaskan seluruh rakyat menjadi pemerasan uang rakyat untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam kerangka profit. Padahal pendidikan sebagaimana sandang, pangan dan papan termasuk kebutuhan primer yang mutlak harus dipenuhi. 

Para kapital tidak pernah berhenti mengepung pendidikan Indonesia dengan arus liberalisasi. Setelah gagal meloloskan UU BHP, mereka berupaya menggolkan RUU PT yang senafas dengan undang-undang sebelumnya; mengkomersialisasi kampus layaknya badan usaha yang profit oriented, otonomisasi pengelolaan keuangan dan mengundang kapital asing untuk ikut bersaing dalam bisnis pendidikan Indonesia (pasal 114 ayat 1 RUU PT). Oleh karena itu, sudah bermunculan lembaga-lembaga jasa pendidikan asing dari Australia, AS, Jepang, Cina, Korea dan Selandia Baru. Mereka telah memasuki pendidikan tinggi, pendidikan seumur hayat, pendidikan vocational dan profesi. 

Keberadaan pendidikan tinggi asing ini ibarat oase di tengah seretnya penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) Indonesia. Mendikbud, Mohammad Nuh, seperti dilansir Okezone menyatakan akan menaikkan target PNBP dari perguruan tinggi asing (PTA) dan badan usaha perguruan tinggi (BUPT) dari 12% per tahun menjadi 30% per tahun. Oleh karena itu, pemerintah gembira masuknya PTA dan terobsesi untuk segera ketuk palu RUU PT.

Di tingkat SD dan SMP, kita sudah melihat konsep sekolah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu saja sekolah ini tidak diperuntukkan bagi siswa miskin. Sebab atas nama mutu internasional, wali murid harus menebus bangku kosong seharga Rp 30-60 juta, sedangkan biaya bulanannya mencapai Rp 1,5-2 juta. Belum ditambah pungutan ini-itu yang dilegalkan oleh negara. Sebagian dana operasionalnya ditanggung negara dalam block grant fund dengan nominal Rp 300-600 juta per tahun yang diambil dari APBN. 

Penutup 

Pendidikan adalah hak warga negara. Tetapi mengharapkan hak diberikan secara adil dari negara berkarakter kapitalistik-sekular ibarat mencabut bayangan dari dalam cermin. Pendidikan Islam memiliki pandangan yang berlawanan dengan pendidikan kapitalistik sekular. 

Namun pendidikan Islam membutuhkan konsep kenegaraan baru yang akan menjalankan fungsinya sebagai pengurus umat secara paripurna, adil dan mensejahterakan. ***

Penulis Alumni FE Unimed dan Aktivis Muslimah HTI 

Senin, 04 Juni 2012

Masalah Pendidikan di Indonesia



Peran Pendidikan dalam Pembangunan


Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan


Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.

Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”

Penyelenggaraan Pendidikan yang Berkualitas


”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”.

Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi dan Swastanisasi Sektor Pendidikan


Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dalam APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Perancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.***
sumber www.ubb.ac.id

About ME

Foto Saya
Parepare, Sulawesi Selatan, Indonesia
Perkenalkan Nama saya Muhammad Ainun Anwar . TTL : Parepare, 7 Juni 2000. Saya Bersekolah Di SMA NEGERI 1 PAREPARE dan aktif berorganisasi yaitu Ambalan Pramuka . saya juga merupakan salah satu anggota dari PURNA BAKTI HANUN SCOUT SMP NEGERI 4 Parepare '' Saya tidak di lahirkan dengan otak yang cerdas, saya memerlukan waktu yang lebih lama untuk memahami sesuatu di bandingkan dengan otak manusia pada umum nya :( ''